Tubuh ini lelah, cinta
Ia mengerang, memohon
Demikian pula mata,
“sudah cukup” ujarnya
Kami muak dengan pelampiasan
Nyatanya aku tetap hampa
Inginku pulang kedalam dekapmu
Cinta, walau ku tak pernah punya
Ingin rasanya mendengarmu
Membutuhkanku kembali
Selama ini tidak,
Pernah ucap demikian
Kini kau genggam kebebasan
Meski aku terkunci
Kita inginkan yang terbaik
Berat untukku pergi
Puisi ini sudah direvisi, setelah 6 bulan dia terbit dan pernah singgah di salah satu video garapan teman saya. Lucu rasanya menilik kembali ke belakang, mengetahui bahwa ketika kamu berada dalam titik terendah, ada kecenderungan untuk menyalahkan pada keadaan. Meskipun, ada baiknya juga ketika pelampiasan kekecewaan itu akhirnya berbuah suatu karya.

