Aku sadar aku harus menulis sebagai pelaku sejarah, bahwa dalam diriku sendiri saat ini tengah ada proses transformas nilai. Mungkin ketika aku sudah dewasa aku akan menengok ke belakang dan menganggap apa yang aku lalui sekarang ini adalah hal biasa. Tapi ketika aku menulis sekarang, ceritanya akan jelas bahwa aku sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Ada penolakan, kebingungan, penyesalan, tapi juga pembelajaran. Hanya kemudian perspektif mana yang perlu dipilih secara bijak dalam menghadapinya. Tetapi aku tidak memilih, aku hanya berjalan, besar harapan dapat pelajaran.
Aku mengingat satu malam di Jogja sebelum keberangkatan, adalah Padangmbulan. Entah mengapa, bagiku mengingat malam saat purnama adalah sebuah keharusan. Selalu ada benang merah antara aku, purnama, dan rumah. Dengan mengingat purnama berarti aku mengingat rumah. Kalau boleh aku bercerita pada purnama, ingin kukatakan bahwa aku amat merindukan hidup sederhana di remang-remang cahaya ibukota. Persetan dengan semua perseteruan, pro-kontra, dan segala persiapan yang serba setengah matang dalam ekspedisi ini. Mengapa pula aku memilih jalan ini, padahal aku tahu bahwa pilihan ini tidak akan mudah. Sesuatu yang ambisius, imajiner, yang sama sekali bukan aku pada kondisi biasanya. Aku rindu zona nyamanku, yang lengkap dengan segala romantika, senda gurau, dan canda tawa. Ya, purnama memang bukan teman yang baik untuk sang pemimpi. Kekuatan purnama menjadikanku lupa bahwa waktu terus berjalan, bahwa pernah ada duka diantara suka, bahwa pada akhirnya semua zat di bumi ini terus berubah.
