Belakangan ini diri jadi amat murung tiap melewati malam melintasi Kota Jogjakarta. Di atas sepeda motor, pandangan itu hilang diantara temaram lampu kota. Bukannya fokus dengan jalanan, pikirku justru sibuk mencari jalan ke titik awal dimana kota ini masih tanpa bumbu, hambar, tak memberi rasa. Sekonyong-konyong titik itu justru mengarahkan saya menuju etape ternyaman dari perlombaan maraton kura-kura di dunia ini.
Tinggal menghitung hari saja sampai tiba waktunya untuk saya pulang ke Jakarta. Tempat dimana daging itu diramu, dan dihadirkan kepada orang yang mengharapkannya. Bukan karena kepergian yang singkat, bukan juga karena perjumpaan yang akan berlangsung cepat. Melainkan karena satu kenyataan yang harus sadari, bahwa seluruh perjalanan ini akan bermuara pada titik nol yang disebut rumah.
Artinya akan segera berakhir waktuku untuk bercakap dengan angin selatan di Bulan September. Begitu juga waktu untuk bercumbu dengan bibir merah Delonix regia yang selalu mampir sebentar setiap pertengahan Oktober. Serta waktu bersama serdadu Cumulunimbus yang sering mengundang saya untuk berdansa tiap pertemuan sore di Bulan November.
Aku hanya merasa bahwa ini belum waktunya.
Berat rasanya, sama seperti ketika dulu akan meninggalkan rutinitas ulang alik Pondok Kacang – Delman Utama. Wiuwiu dari pos perlintasan kereta api di Tanah Kusir, beserta sekelebat debu dan riuh mesin kendaraan yang saling menyerobot ketika palang pintu kereta telah dibuka, masih beririsan dengan kehidupanku hingga satu tahun penantian di palang pintu barat Stasiun Lempuyangan.
Tuhan memang Maha Pintar dalam urusan menumbuhkan rasa nyaman dalam diri tiap manusia. Rasa itu tumbuh perlahan, kemudian tumbuhnya berangsur cepat, lebih cepat, amat cepat, hingga ia menjumpai fase dimana ia akan mekar. Sebagaimana bunga, rasa itu lambat laun akan melayu, hingga pada akhirnya ia jatuh bersentuhan dengan tanah dan tumbuh menjadi bagian dari rasa lainnya.
Saat ini, setelah empat tahun berselang, aku bahkan hampir lupa pernah menanti di palang pintu barat stasiun.
Jogjakarta, 10 Januari 2019
