Saya pikir melepaskan belenggu dari segala jenis keterikatan akan membebaskan saya dari semua perasaan bersalah, tapi justru saya semakin merasa bersalah. Saya tahu, saya sadar dengan seluruh kewarasan akal yang saya miliki bahwa memutuskan hubungan ini akan menjadi penyesalan terbesar dalam hidup saya, tapi pada akhirnya saya memilih untuk hidup melawan penyesalan itu. Orang bilang penyesalan selalu datang belakangan, jadi mungkin saja penyesalan tidak terjadi jika sesal itu sudah direncanakan sejak awal.

Penyesalan terjadi karena adanya konstruksi nilai benar dan salah dalam menjalani kehidupan. Padahal perjalanan kehidupan manusia adalah rentetan dari peristiwa sebab-akibat yang tidak pernah terputus. Seharusnya tidak ada benar dan salah bagi seseorang dalam menentukan jalan hidupnya, karena pada hakikatnya garis kehidupan manusia hanya dapat berjalan maju. Bukan dirimu yang akan menilai benar atau salah pilihan yang telah kamu ambil, tetapi orang lain. Dengan demikian nampak sebuah korelasi antara penyesalan yang terjadi dalam diri seseorang dengan penilaian orang lain. Orang lain menilai berdasarkan apa yang menurut mereka benar dan salah terhadap kondisi yang tengah terjadi dalam kehidupan yang bukan mereka miliki. Tetapi hal ini memang sudah tugas yang sepatutnya dilakukan oleh orang lain, supaya si empunya kehidupan merasa menyesal dengan pilihannya, dan memilih jalan hidup yang lebih ‘benar’.

Seharusnya satu-satunya anugerah terlahir menjadi manusia adalah kesempatan manusia untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Setelah sebelumnya ruh manusia tidak pernah memiliki kesempatan untuk memilih, terlibat atau tidak dalam permainan dunia ini. Setelah terlahir, manusia masih saja harus sejalan dengan konstruksi nilai yang dibangun oleh lingkungan sekitarnya. Hidup mereka sedemikian sempit sehingga sulit untuk kemudian benar-benar memahami apa yang sebenarnya menjadi tujuan keberadaan mereka di dunia.

Seharusnya saya tidak perlu merasa menyesal, karena penyesalan ini sudah saya ketahui sejak awal. Tapi kembali dalam bingkai konstruksi sosial, saya tidak pernah bisa mengingkari perasaan bersalah yang telah saya bangun sendiri.

Out beyond the ideas of wrongdoing and rightdoing, there is a field. I will meet you there.

Jelaluddin Rumi