Aku akhir-akhir ini gelisah membayangkan bagaimana jika aku ternyata benar akan pergi untuk mengunjungi Sailus kembali. Yang terlintas dalam pikiranku adalah aku datang pada nuansa matahari terbenam. Bersama dua orang ABK dan berjejalan barang bawaan serta tentengan di sekeliling saya.
Kemudian jallepa’ yang kutumpangi pun bersandar di bibir jembatang. Lalu seorang ABK akan terlebih dahulu menyeberang ke sisi jembatang, dan membantu aku memindahkan barang bawaan yang serba merepotkan. Orang-orang di sepanjang jembatang juga masih sibuk lalu-lalang memindahkan barang. Kebetulan hari ini bukan terang bulan sehingga pergi melaut adalah sebuah kewajiban. Di sisi jembatang aku pasti masih akan sibuk mengamati pemandangan, melihat perubahan di tengah semua keramaian. Hingga sejenak terlintas dalam pikiran, masihkah kalian mengingat tentangku wahai kawan.

Aku pun berjalan meninggalkan semua kekhawatiran. Sampai langkahku di pangkal jembatang, ada suara memanggil dari belakang. “Kak Bondaang!”. Rupanya suara itu bermuara dari kerumunan sanaeké yang bermain dibalik lopi sisi seberang. “Kak Bondang o mallai kak Bondang!” Sesaat kemudian decakan kaki tanpa alas pun berhamburan datang.
Rasanya seperti orang baru keluar dari sel tahanan, kehadiranku langsung dicecar ribuan pertanyaan. “Kak Bondang kapan datang?” “Dinnah semua temanna Kak Bondang?” “Kak Bondang, mana Kak Kintang?” “Kak Bondang kapan mau pulang?” “Kak Bondang, ooo Kak Bondang” Tak mampu mulutku menjawab satu pun pertanyaan, hanya tangisan. Rasanya mau kuteriak di kuping kalian, “O Sanaeké tahukah ko seberapa rindu kakak dengan kaliaannn!!!” Aku pun menjadi pusat perhatian karena mengangis tertawa di tengah jembatang. Selalu saja aku dipanggil dengan sebutan Kak Bondang.
Aku pun tersadarkan tengah menatap langit selatan. Di tengah kota yang riuh dengan bunyi kendaraan. Bukan, bukan langit selatan yang penuh dengan gemerlap bintang. Oh Tuhan, andaikan mimpi menjadi kenyataan. Aku pun tak tahu apa yang harus kukatakan. Pertemukanlah kami, ya Tuhan.
Grha Sabha Pramana, Yogyakarta
