Jarang ada orang yang angkat bicara tentang kekerasan seksual tidak hanya dari sudut pandang perempuan saja, tapi juga sudut pandang laki-laki sebagai pelaku. Mungkin sudah lebih satu tahun cerita #KitaAgni mencuat ke permukaan. Respon publik saat itu demikian keras, banyak yang kecewa karena pihak kampus tidak dapat bersikap adil menanggapi apa yang telah dialami oleh Agni. Ada juga yang membela kampus karena tindakan yang telah dilakukan kedua orang ini seharusnya masuk ke ranah hukum pidana, dan secara tidak langsung telah merusak citra kampus di mata publik. Ada juga kelompok yang sedemikian marah sampai-sampai pertemuan antara keluarga korban dan keluarga pelaku masih dianggap belum cukup. Saya menilai opini dan pemberitaan media bias dalam mencerdaskan publik mengenai ‘bagaimana merespon suatu kejadian pelecehan seksual’. Sederhana, karena belum pernah saya membaca, mendengar cerita atau liputan yang menggunakan sudut pandang pelaku dalam kekerasan seksual.
Cerita Thordis dan Tom kemudian menjadi berbeda setelah enam belas tahun kejadian pelecehan seksual itu berlangsung. Narasi yang dibangun kemudian tidak lagi mendiskreditkan korban sebagai seseorang yang ‘rusak’, ‘tidak terhormat’, atau ‘rendahan’. Juga tidak selalu memandang pelaku sebagai ‘monster’, ‘penjahat’, atau ‘bukan manusia’. Kalau di negara saya sendiri, mungkin tidak asing jika kita dengar label ‘penjahat kelamin’ dan ‘tidak perawan’ yang konotasinya tidak jauh berbeda. Padahal sesungguhnya adalah masyarakat itu sendiri yang bertanggung jawab atas kejahatan yang terjadi, karena mereka menolak untuk melihat perspektif korban-pelaku secara manusiawi.
Bagaimana caranya masyarakat mau menguatkan, jika mereka selalu merendahkan orang yang menjadi korban karena tidak mampu ‘menjaga dirinya sendiri’? Masyarakat kita seringkali masih amat konservatif memandang persoalan kekerasan seksual. Padahal sedemikian apapun upaya yang dilakukan korban untuk melindungi dirinya, satu-satunya hal yang bisa mencegah terjadinya kekerasan seksual adalah dari itikad si pelaku. Pun bagaimana caranya masyarakat akan mampu mengatasi masalah pelaku kekerasan seksual, jika pelaku selalu tidak punya ruang untuk berbicara atas permasalahan yang terjadi? Pelaku kekerasan seksual akan terus dinamakan penjahat oleh masyarakat, jika masyarakat tidak pernah mampu melihat sisi manusia dalam diri pelaku.
Semoga TED Talks ini dapat membuka mata pembaca saya untuk lebih memahami. Melihat kembali sebuah persoalan secara manusiawi, bukan atas dasar konstruksi.
Si tou timou tumou tou. – Manusia baru dapat dikatakan sebagai manusia, apabila sudah dapat memanusiakan manusia.
G.S.S.J. Ratulangi
