Pamrih

Saya jadi sering memikirkan ini beberapa waktu belakangan, tentang bait pertama Membasuh dari Hindia. Rasanya aneh ketika seseorang menembakmu dengan satu pertanyaan yang juga ingin kamu pertanyakan pada dirimu sendiri. Ada yang berbisik dalam telingaku, mengatakan: belum sepantasnya kamu mengucap kata ‘iklas’.

“Mas, aku tanya ini, kenapa kok kamu mau sampai empat tahun di sini?”

Waktu itu aku jawab karena inilah satu-satunya rumah yang kumiliki. Aku sendiri tidak yakin apakah aku akan hidup hingga hari ini jika bukan karena ‘rumah’. Orang menyedihkan seperti saya, yang seringkali dihadapkan pada persimpangan tujuan hidup, akan menyadari bahwa: orang lain adalah alasan mengapa kamu belum menghilang dari peradaban dunia. Ada orang yang masih membutuhkan dirimu.

Tahun pertama saya di sini adalah tentang belajar, menjadi anak bungsu dari keluarga besar yang umur kepalanya sudah melebihi empat. Membangun cita-cita untuk kemudian diwujudkan oleh kakak dan orang tua saya. Mengemis validasi untuk menjadi apa yang diinginkan oleh para serigala. Merasakan asing, namun memperoleh penerimaan.

Tahun kedua adalah tahun dimana rasa muak dan lapar membaur jadi satu. Muak karena geram dengan para serigala garis depan yang semakin terlihat tidak serius dalam mengarahkan pergerakan kawanan. Para serigala kehilangan rumahnya karena hutan tidak lagi aman. Di satu sisi kawanan kami menjadi bertambah besar, dan semakin banyak mulut yang menganga kelaparan. Sementara mangsaku pagi ini belum juga terlihat, aku harus berbagi jatah makanku semalam yang belum sempat kuhabiskan.

Tahun ketiga akhirnya ditakdirkan untuk berdiri diantara garis depan kawanan serigala ini. Beberapa anggota serigala yang lebih tua mulai pergi mencari kawanan barunya, sementara aku dan beberapa rombongan baris depan sibuk membenahi hutan kami supaya menjadi lebih asri. Anggota serigala baru pun datang, dan kami kewalahan membagi peran tentang siapa yang bertugas untuk berburu makanan. Aku masih ingat saat dimana aku memandikan Yoko, lalu esok harinya ia kawin sembarangan dan beranak sangat banyak, hingga akhirnya ia memilih jalan yang berat sebagai anjing liar.

Pada pertengahan tahun ketiga aku pergi meninggalkan kawanan untuk berburu makanan di kutub utara. Tiga hari sebelum aku berpamitan dengan kawanan, semua orang membenci jalan yang kupilih karena bergandengan tangan dengan lawan. Mereka tiada memahami alasanku sampai rela berdingin-dingin hanya demi seonggok tulang. Satu yang mereka tahu: tingkahku berjalan berdampingan dengan musuh adalah dosa besar sebagai seekor serigala, titik. Aku sadar bahwa pada akhirnya aku harus pulang kepada kawanan, berbagi makanan dengan mereka yang kelaparan. Namun kembali sebagai seekor serigala penghianat bukanlah hal yang gampang. Apalagi taringku tidak cukup runcing untuk menantang. Bagaimanapun juga taring adalah bawaan, tidak seperti kuku cakar yang bisa dipertajam. Aku takkan menang sekalipun ada benarnya apa yang kukatakan.

Aku tetap melanjutkan tugas sebagai pemburu makanan, persetan dengan segala omongan. Lalu aku membagikan daging dan tulang kepada anak-anak serigala, mirip seperti apa yang telah pendahuluku ajarkan. Seiring bertambahnya usia, mereka ternyata mengharapkan lebih dari sekedar daging dan tulang. Satu persatu mereka meninggalkan hutan, itulah yang kusebut dengan mental kentang. Tapi apa daya, hutan kami juga dihanguskan sebelum tahun baru datang. Beruntung kami menemukan hutan yang lebih luas dan aman.

Pada tahun keempat aku belum bisa meninggalkan kawanan. Ada rentetan kesalahan yang harus kutebus selama menjalani hidup sebagai serigala, dan mungkin inilah masa yang tersisa. Kulakukan apapun yang belum pernah tercapai selama menjadi serigala: memanjangkan rambut; mengisap tembakau; hingga menelan anggur merah. Intinya aku hanya ingin dapat beriring kaki dengan langkah kawanan serigala. Hingga akhirnya kutunjukkan pada mereka tempat persembunyian makanan yang dulu pernah kudatangi bersama para kawanan lama.

Para serigala mengeluhkan padaku tentang teknik berburu yang sudah usang, hasil pun tidak memuaskan. Aku geram jadinya dengan lolongan mereka yang teriak kelaparan. Padahal jika para serigala ikut serta dalam hari perburuan, mereka pun akan kesulitan karena malas latihan. Lama kelamaan serigala jadi semakin mirip dengan anjing yang hanya bisa menjulurkan lidah ketika butuh asupan.

Ketika kutengok lagi ke belakang, ternyata apa yang kulakukan tidak ada yang benar-benar bersih dari hasrat dan keinginan sendiri. Baru kusadari bahwa selama ini makanan yang kubagikan pada mereka adalah makanan juga buat diriku sendiri. Belum pernah aku membagikan makanan tanpa aku ikut kebagian sisa usus atau ari-ari. Jangan-jangan aku jadi seolah merasa dibutuhkan karena akulah yang menciptakan lingkaran itu sendiri. Mungkin sudah waktunya untuk mencari jalan keluar dari pamrih yang selama ini mengelilingi. Tentu saja bukan jalan untuk menjadi Manusia, karena aku tetap Serigala.

Selama ini kunanti yang kuberikan datang berbalik
Tak kunjung pulang apapun yang terbilang di daftar pamrihku seorang

Telat kusadar hidup bukanlah perihal mengambil yang kau tebar
Sedikit air yang kupunya milkmu juga bersama.

Baskara Putra & Rara Sekar