Mustahil jika sehabis membaca buku ini tapi nggak tergila-gila sama sosok Jeng Yah. Ratih Kumala sangat telaten untuk membentuk karakter para perempuan di buku ini supaya pembaca bisa mencintai mereka melalui kegigihan dan kekuatannya, bukan sekedar imaji fisik belaka. Alurnya sangat menyenangkan, sedikit mirip dengan Lelaki Harimau. Pada awal cerita pembaca sudah disuguhkan separuh dari resolusi sebuah skenario, lalu penulis menggiring pembaca untuk menerka-nerka tentang apa yang sebenarnya terjadi. Peran antagonis dan protagonisnya terbagi dengan baik dan tidak berlebihan. Banyak makna yang bisa dipelajari melalui hubungan keluarga, cinta, dan pertemanan dari lingkaran sosial Jeng Yah. Terutama tentang bagaimana sejarah selalu diceritakan dari sudut pandang orang-orang yang menang, padahal banyak sekali cerita memilukan yang membungkusnya.

Secara keseluruhan sulit untuk mencari kekurangan dari Gadis Kretek. Kecuali mungkin dalam percakapan antara ketiga anak pemilik Kretek Djagad Raja. Tegar dan adik-adiknya punya campuran yang cukup kuat antara latar belakang metropolitan dengan keluarga tradisional Jawa, namun beberapa percakapan di antara mereka terkesan nanggung. Padahal ungkapan dalam Bahasa Jawa dicetak miring dan dijelaskan pada catatan akhir bab, seharusnya beberapa cek-cok yang menggunakan ungkapan Jawa bisa diselesaikan dengan luwes. Sekali lagi manusia disadarkan bahwa lingkup kuasa yang mereka miliki hanya sebatas usaha, perkara hasil adalah Tuhan yang menentukan. Lalu pembaca akan menyadari kesimpulan di akhir cerita dengan mengucap ‘seandainya saja…’.Rekomendasi untuk kamu yang membutuhkan buku ringan sebagai teman perjalanan, ditambah dengan nilai pengetahuan yang sepadan tentang kretek. Waktu membaca 2-5 hari.