Tidak pernah terbayangkan sebelumnya video yang saya unggah bisa tembus menembus lima ribu kali tontonan. Entah karena faktor pandemi yang membuat semua orang #dirumahaja jadi bisa punya banyak waktu untuk rebahan dan bermain instagram, atau memang ada hal baik yang bisa didapat dari tayangan ini. Namun jelas, hal ini tentu membuka mata saya terhadap apa yang mungkin bisa lakukan pada masa yang akan datang.
Kira-kira sepuluh hari sebelum proses produksi dimulai, Mas Fahmy menghubungi saya terkait informasi mengenai lomba video kreatif ini. Padahal poster tentang video itu sudah seliweran mengisi telepon genggam saya, sejak berhari-hari sebelumnya. Saya sempat terketuk, tapi tidak tertarik. “Bukan masanya lagi untuk ikut-ikutan lomba,” gumam saya dalam hati. Tapi Mas Fahmy adalah senior saya, dan tentu saja saya tidak mau kelihatan seperti anak muda yang kehilangan gairah terhadap tantangan, jadi saya setuju untuk bergabung. Lagi pula ide cerita dan eksekusi adegannya terdengar sederhana, jadi kupikir proyek ini tidak akan begitu menyita waktuku untuk bercumbu dengan tugas akhir.
Seminggu berlalu, hidup berjalan lengang tanpa ada sesuatu apapun yang cukup signifikan untuk dikerjakan, proyek film ini masih menjadi sebatas wacana dalam ruang pesan WhatsApp. Sampai akhirnya Mas Fahmy menghubungiku lagi, “Ayo ham, pie iki sido digarap ra?“, “Oh iyo sido lah mas, gas terus nek aku.” jawab saya lewat pesan WhatsApp. Keesokan harinya aku diperkenalkan oleh Mas Fahmy kepada si penulis cerita dan sutradara, yaitu Mas Anggit. Dari pembawaannya dalam menjelaskan ide cerita serta rencana eksekusi pengambilan gambar, aku tahu dia adalah orang yang bisa menghidupkan proyek ini, tanpa keraguan aku bertekad akan mewujudkan proyek film pendek ini. Briefing cukup berlangsung selama dua hari, lalu pengambilan gambar dieksekusi pada hari ketiga.
Saya sudah beberapa kali tergabung dalam proyek film pendek, baik sebagai pengambil gambar atau sebagai pemeran. Namun baru pertama kali saya menemukan orang yang memiliki bakat terpendam sebagai sutradara. Mas Anggit sangat paham betul gambar seperti apa yang ingin dia hasilkan di layar kaca, dia juga paham betul bagaimana membangun kepercayaan diri para pemeran untuk tampil di depan kamera. Momen paling menyenangkan adalah ketika Eva dan Yusya berlatih melafalkan “yuuhuu“, dan “yahimbe!” berulang kali untuk menghasilkan tone suara yang tepat. Pengambilan gambar berlangsung selama kurang dari 24 jam, tanpa drama, hanya tawa dan rasa kenyang yang tersisa. Proses menyenangkan berikutnya adalah tahap editing, karena kali ini saya sangat beruntung bisa menggunakan komputer kantor kakak saya yang kecepatan software editingnya nggak bisa direm, jadi jalan mulus terus tanpa hambatan dan sambatan. Hasil akhirnya? Saya selalu ketawa-tawa sendiri melihat acting Mas Yusya ketika kaget mendapat kabar bahwa dia diliburkan dari pekerjaannya. Terima kasih semua sudah membuat pandemi saya menjadi lebih berwarna
