Hari ini saya sedikit tergelitik oleh kebiasaan para ‘pejabat penataan ruang’ yang sampai sekarang kok masih begini. Mereka yang sedari awal memaksakan bahwa wacana pemindahan ibukota ini harus tetap berjalan walau ada atau tiadanya anggaran, dan walau sama sekali tanpa perencanaan. Jangan dulu bersumbu pendek, saya tahu mereka yang berkantor di Jakarta sana memang mengerjakan proyek perencanaan yang tidak direncanakan. Coba kita tengok bagaimana forum pembahasan rencana tersebut melalui informasi dari ring satu berikut. Dank je wel niemand, zo’n goed werk.














Pencatutan ide/gagasan, penjiplakan, atau reproduksi karya tanpa seizin pencipta adalah tindakan tidak pantas atas dasar apa pun. Tapi tidak perlu heran, bahkan terheran-heran. Saya pikir akar perkaranya itu karena ini ibukota adalah urusan yang tergesa-gesa. Peduli apa dengan segala perencanaan yang sistematis, orang-orang kami sudah terbiasa melewati jalan pintas bahkan memotong kompas.
Saya menulis di sini tanpa bermaksud untuk mendiskreditkan pekerjaan teman-teman saya yang bertugas di Ditjen Tata Ruang, atau direktorat lainnya yang bersinggungan langsung dengan urusan IKN. Saya pun paham jika kampus almamater saya (dosen beserta alumninya) termasuk dalam penggagas pemindahan ibukota, hingga penyusunan naskah akademis yang dimuat dalam dokumen pendukung perundang-undangan Ibukota Nusantara. Namun apalah daya jika urusan kemasan lebih diutamakan ketimbang perencanaan yang matang, persetan dengan hak cipta penggunaan gambar (toh hanya sebagai ilustrasi penunjang presentasi penataan kawasan). Entah presentasi ini disusun oleh penata muda atau konsultan, saya cukup yakin bahwa mereka yang berkantor di pemerintahan pusat sana tidak diberikan keleluasaan untuk merencanakan secara matang dengan penuh perhitungan dan pertimbangan. Mereka hanya dituntut untuk menghasilkan paparan yang cantik, agar memudahkan para eselon dan pejabat politis di tingkat atas untuk menarik hati calon penanam modal.
Kata pengantar yang disusun tentang gentingnya pemindahan ibukota selalu menggunakan diksi-diksi perihal daya dukung lingkungan, dan pemerataan ekonomi. Gagasan tentang membangun segala sesuatunya dari nol adalah pengisahan tentang harapan, kesempatan, juga kecemasan. Banyak orang berangan-angan tentang gambaran sebuah kota yang merepresentasikan kedigdayaan peradaban bangsa yang dikagumi oleh seluruh dunia. Sayangnya mimpi kebanyakan orang ini kemudian direduksi sedemikian rupa oleh para yang mulia pengambil kebijakan, sehingga makna ibukota adalah menjadi tempat tinggalnya para penguasa, elit, dan konglomerat. Tidakkah kamu orang menyadari jika kegagalan dalam perencanaan dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan dan kesenjangan sosial ekonomi. Kalau kita tarik kembali ke belakang, siapa sebenarnya yang hendak dan seharusnya dilayani dalam urusan bernegara ini. Omong kosong jika semua dilakukan demi dan atas nama rakyat.
