Sudah dari lama ibu cerita kalau dia punya rencana untuk pergi ke tanah suci, tapi satu hal yang mengganggu hatinya adalah karena aku tidak mau ikut serta. Banyak lah alasan, pertama karena aku belum merasa mendapat panggilan hati untuk datang ke tanah suci, kedua jika pun sudah merasa terpanggil aku ingin untuk berangkat menggunakan uangku sendiri, dan ketiga mungkin ketika sudah ada rezeki lebih baik menuntaskan kewajibannya ibadah haji terlebih dahulu. Tapi akhirnya aku mengalah, bukan karena apa, tapi karena mamakku macam memohon dengan betul-betul hari itu lewat telepon dia bilang, “Ayolah nak, kapan lagi kita punya kesempatan umrah sama-sama sekeluarga, kamu lho nggak pernah meluangkan waktumu untuk liburan barang sebentar saja”. Sedikit iba aku mendengarkan mamakku bicara, betul juga apa yang dia bilang. Kalau sampai ternyata ini permintaan terakhir mamakku, durhaka betul rasanya aku ini sampai tidak mau menuruti.
Itulah latar belakang, singkat cerita sampailah kami sekeluarga di kota Makkah al-Mukarramah. Mutawif kami sampaikan selamat datang, lalu dia bilang kalau tidak sembarang orang bisa sampai ke tanah suci.
“Banyak orang yang sudah mampu secara finansial untuk datang kesini, tapi jika belum merasa mendapatkan panggilan dari Allah SWT, maka tidak mungkin ia bisa berada di sini”.
Ya memang apa yang diucapkan ada benarnya, saat itu memang dalam rombonganku terdapat seorang pengurus masjid yang ia diberangkatkan umrah oleh penduduk sekitar atas jasa-jasanya memakmurkan masjid. Tapi di satu sisi, masih banyak ribuan orang di luar sana yang mendambakan untuk dapat berada di sini, memanjatkan doa, memohon ampunan secara langsung di tanah suci. Sementara yang berkesempatan hadir malah orang seperti aku yang tidak melakukan usaha apa-apa, bahkan berkeinginan saja tidak. Bagaimana tidak setengah malu rasanya berada dalam lingkaran ini. Tapi kalau kutengok lagi, masih ada yang lebih beruntung dibandingkan aku dalam rombongan. Mereka adalah anak-anak yang belum tamat sekolah dasar, namun sudah bisa melakukan perjalanan ke tanah suci. Perbedaannya mungkin mereka tidak merasakan gejolak batin seperti apa yang kurasa.
Aku tidak bisa memikirkan tujuan apa pun saat berada di Tanah Suci selain memohon ampun. Sebagai seseorang yang menyadari akan jaraknya dengan Sang Pencipta, apa lagi yang hendak diharap selain ampunan. Aku tidak punya target untuk melakukan bermacam variasi ibadah, namun dalam perjalanannya aku mulai paham bahwa ibadah adalah salah satu pintu untuk memperoleh ampunan. Pada malam pertama di Mekkah aku kuatkan tekad untuk menuntaskan Juz ‘Amma selama tiga hari ke depan, di samping melaksanakan rukun peribadatan dalam umrah. Meskipun, pada malam yang sama aku harus menenggak malu bahwa sebagai seseorang yang biasa memanggul belasan kilo kala mendaki dan menuruni gunung, aku justru merasa kelelahan saat harus berlari-lari kecil dari safa ke marwah sebanyak tujuh kali dengan tanpa memikul beban apa pun. Kedua kaki ini terasa tegang bahkan hampir tak tergerak untuk dapat melanjutkan perjalanan. Belakangan aku sadari bahwa beratnya beban logistik yang kupikul saat ke hutan selama ini, tidak sebanding dengan berat dosa yang kukandung dalam diriku sendiri.
Pada kesempatan umrah yang kedua, aku usahakan untuk melunasi janjiku untuk membaca Juz ‘Amma hingga tuntas. Masih bisa kurasakan hingga saat ini teriknya matahari dan keringnya udara di sekitar Masjidil Haram selepas waktu zuhur kala itu. Sebuah kombinasi yang mampu menurunkan kepadatan di lantai dasar, walau hanya satu persen barangkali. Waktu menunjukkan pukul 3 saat aku menyelesaikan rukun tawaf, artinya masih tersisa sekitar empat puluh menit sebelum adzan ashar berkumandang. Jadi aku ambil posisi terbaik bersama ayah dan ibuku di baris belakang antara Maqam Ibrahim dan Hijr Ismail untuk melaksanakan salat sunnah tawaf dan membaca Quran. Gugusan awan mulai bergerak untuk menghalau matahari barang sejenak, lalu pergi menyisakan paparan cahaya di seisi wajahku, lalu datang kembali dalam alunan ritmis yang menyenangkan. Seusai aku melantunkan beberapa surah, sampailah aku pada ayat-ayat Surah Al-A’la, air mataku mulai menetes. Aku tidak sedang mengenang, tapi aku ingat bahwa pernah aku berusaha untuk menghafalkan surah ini dan surah setelahnya di masa sekolahku. Sungguh aku tidak pernah menyangka akan menitikkan air mata saat mengaji, tidak juga aku menolak dan menyeka pipiku yang basah. Cukup kunikmati saja lantunan kata yang terucap, dan aliran air mata yang bertambah deras. Tangisanku semakin menjadi-jadi tanpa bisa kupahami apa sebabnya. Telah lama aku tidak merasakannya. Mungkinkah ini yang dimaksud dengan rindu? Pada kalimat yang tak pernah terucap, pada kesahajaan di hadapan Yang Maha Kuasa.
Hari ketiga kami diantarkan ke tempat mengambil miqat yang cukup jauh, searah dengan perjalanan pulang kami dari kota Ta’if. Pada pelaksanaan umrah yang ketiga kami tidak lagi didampingi oleh mutawif, sehingga masing-masing keluarga harus memimpin sendiri bacaan dan doa dalam tiap rukunnya. Ayah tidak sanggup untuk melanjutkan umrah meskipun ia sangat menginginkannya. Akan tetapi ibu belum kehabisan tenaga barang sedikit pun, aku juga mengerti bahwa ia menginginkan ini lebih dari siapa pun diantara kami bertiga. Kami putuskan untuk menunaikan salat isya di Masjidil Haram lalu menuntaskan rukun tawaf dan sai pada malam itu juga. Harus aku katakan dengan jujur sebuah fakta yang telah diketahui oleh semua orang, bahwa ibadah umrah memang menuntut jiwa dan raga yang tangguh. Beberapa kali harus kuyakinkan kepada ibuku untuk tidak mengambil lajur tawaf yang terdekat dengan kabah supaya menghemat tenaga, meskipun ia sangat menginginkan untuk dapat menyentuh rukun Yamani dan Hajar Aswad. Waktu hampir menunjukkan pukul sebelas malam saat aku menenggak sejuknya air zamzam di antara tawaf dan sa’i.
Berdasarkan pengalaman dua hari sebelumnya, butuh sekurang-kurangnya tiga puluh menit untuk menyelesaikan rukun sai. Barangkali memang belum pantas aku untuk menjadi mutawif, karena tiada satu bacaan pun yang dapat kuingat di luar kepala. Meskipun harus berkali-kali membuka buku panduan, namun cukup kunikmati saat-saat mengimami ibuku hingga kami tuntas melaksanakan sa’i. Pada putaran terakhir ia katakan bahwa tidak sanggup lagi kakinya untuk berlari-lari kecil, dan memintaku untuk menunggu di ujung segmen cahaya hijau. Tanpa ia ketahui bahwa aku pun sedari tadi hanya berpura-pura untuk kuat. Menangis batinku memohon di antara raga yang terasa amat rapuh oleh tumpukan dosa, supaya Ia angkat derajat orang tuaku. Aku berdoa agar sekiranya orang tuaku dapat bersaksi di hadapan Tuhannya kelak bahwa: ‘anak inilah yang pernah memimpinku di kala aku melaksanakan tawaf dan sai, maka ampunilah segala dosanya’. Semendhal aku membayangkan jika peristiwa itu akan benar terjadi. Rasanya aku ingin betul-betul menangis di pelukan ibuku saat itu, tapi aku terlalu sombong untuk menunjukkan perasaanku yang sesungguhnya.
Sampai di titik ini, ternyata diriku masih amat egois untuk selalu mengharap pertolongan orang lain, bahkan untuk urusan yang tidak ada kaitannya dengan mereka. Bukankah perkara dosa itu dipertanggungjawabkan langsung kepada Tuhan? Aku dapati orang-orang seperti saya ini selalu berkelit dengan dosanya yang menumpuk tapi tidak pernah tulus dalam memohon ampun. Selalu dirundung candu untuk mengulangi kesalahan yang sama. Pada akhirnya, rangkaian pengalaman spiritualitas itu sendiri tidak akan bermakna apa-apa jika tidak digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki diri. Sekarang aku paham jika gelar haji/umrah mabrur itu hanya diberikan kepada orang-orang yang berani menyatakan perubahan terhadap sifat dasar yang melekat dalam pribadinya.

