Ibarat sebuah ritus keagamaan, menonton Coldplay Live adalah apex dari keyakinan sekelompok orang terhadap grup musik. Barangkali memang tidak akan setara untuk menyandingkan tur sebuah band dengan ritual keagamaan. Tapi pada hari ini kebanyakan orang memang terobsesi tidak hanya kepada satu yang tunggal, ia bercabang dan menemukan wujudnya masing-masing.

Aku adalah salah satu dari puluhan juta orang yang terobsesi pada band asal Britania Raya ini. Aku begitu mengagumi mereka sampai-sampai dalam perjalananku dari Sumenep hingga Surabaya kuhabiskan seutuhnya mendengarkan playlist This Is Coldplay yang hampir 4 jam lamanya. Saat jogging kuperdengarkan Music of the Spheres, saat mengerjakan skripsi aku putar A Head Full of Dreams, dan saat tidak tau harus mendengarkan apa aku memilih Everyday Life. Aku bahkan masih ingat kapan tanggal rilis Ghost Stories. Sekarang kamu bertanya kenapa dalam enam tahun berturut-turut Coldplay selalu berada di baris paling atas Spotify Wrapped?

Kembali lagi semuanya adalah tentang penerimaan. Aku tidak mau jadi fans garis keras yang kemudian melarang orang-orang karbitan menonton konser karena tidak tergabung dalam fanbase, atau ribut di twitter karena tidak berpeluang sama sekali untuk memperoleh kesempatan. Jauh lebih arif agaknya jika aku menyadari bahwa saat ini menonton konser belum masuk dalam daftar prioritas kebutuhan. Hingga tiba harinya nanti, aku hanya bisa mengucapkan, selamat datang di Jakarta.

In the end it’s all about the love you’re sending out