Siang ini tidak seperti biasanya, perjalanan motor menuju Kebayoran Lama terasa seperti lima derajat lebih hangat, dan sialnya sangat berdebu. Kondisi udara Jakarta ini sebenarnya sudah kuanggap wajar, hanya saja kali ini terasa signifikan karena kujalani sambil mendengar siaran podcast Al-Jazeera tentang 7 Oktober 2023. Aku pun terlarut dalam cerita Malika Bilal, membayangkan bagaimana panasnya terik matahari di Gaza yang tanpa kanopi pepohonan untuk bernaung, tanpa tempat untuk berlindung. Gaza yang merupakan salah satu wilayah dengan populasi terpadat di dunia, harus menghadapi konsekuensi atas resistensinya melawan kolonisasi Israel.
Sabtu pertama di bulan Oktober 2023 adalah hari dimana Hamas sebagai perwujudan dari rakyat Gaza berhasil menerobos keluar dari kurungan ‘penjara’ yang mengisolasi masyarakatnya sejak peristiwa Nakba, dan Intifada. Tapi siapa yang sangka, negara yang memiliki kekuatan pertahanan terbaik di dunia dengan benteng berlapis dua di sekeliling perbatasan Gaza, serta teknologi perang yang paling mutakhir pun berhasil ditembus oleh kelompok Hamas yang di atas kertas tidak memiliki apa-apa. Sekitar lebih dari 1.400 penduduk Israel di bagian selatan tewas, dan ratusan orang ditahan sebagai sandera oleh kelompok Hamas. Seperti biasa, responnya dari negara-negara barat sudah bisa ditebak, kutukan terhadap Palestina, dan dukungan penuh terhadap Israel. Konflik pun tereskalasi menjadi perang terbuka antara kedua belah pihak, yang mana sebagian besar korbannya tentu saja masyarakat sipil. Hingga hari ini, perang Israel-Hamas telah menewaskan sekitar 2.800 penduduk Palestina, puluhan ribu yang terluka, serta jutaan jiwa yang terpaksa untuk mengungsi.

Aku memang tidak begitu terampil dalam menjelaskan runtutan peristiwa, menganalisis penyebab serta potensi dampak yang ditimbulkan. Hanya saja, tayangan produksi Vox ini yang merangkum pertanyaan tentang kemana perginya tentara pengamanan Israel saat meletusnya kejadian 7 Oktober 2023.
Banyak pelajaran yang bisa aku dapat dari peristiwa 7 Oktober.
- Rezim otoriter primordial akan senantiasa berusaha mewujudkan opresi terhadap kelompok-kelompok yang dianggapnya sebagai sampah. Dalam hal ini tentu saja ambisi Netanyahu yang ingin menguasai Tepi Barat melalui berbagai bentuk ancaman kekerasan kepada rakyat Palestina.
- Tekanan ketidakadilan dan ketertindasan yang diberikan kepada entitas masyarakat minoritas pada akhirnya akan membentuk sebuah kekuatan kolektif yang pada akhirnya akan mampu meruntuhkan benteng otoritas yang berkuasa.
- Bias media semakin terasa, salah satu contohnya adalah melalui konten singkat yang diproduksi oleh Johnny Harris yang sejak awal membingkai serangan Hamas sebagai sebuah ancaman terhadap tatanan keamanan dunia. Barangkali seluruh dunia lupa bahwa sejak abad ke-XIX, Amerika Serikat, Britania Raya dan sekutunya telah berandil besar dalam menciptakan konflik turunan yang terjadi di Timur Tengah hingga saat ini. Sementara apa lagi yang dapat diharapkan dari seratus tahun penjajahan selain kisah-kisah heroik Robin Hood, atau perebutan kembali Winterfell.
Aku yakin suatu saat nanti 7 Oktober akan menjadi hari dimana rakyat Palestina mengenang dan merayakan keberanian para pendahulunya yang telah mengajarkan kepada dunia bagaimana cara melawan kepungan otoritas adikuasa.
Pondok Kacang, 17-X-23
