Lima tragedi di satu desa yang celakanya saling terhubung oleh karena aib dan nasib. Terasa betul latar permukiman kampung di pinggirnya pinggiran kota melalui deskripsi gubuk di antara gang sempit, kebon punya pak haji, atau kebiasaan warga main menyemen sana-sini. Di lingkungan kampung yang serba nanggung itulah Bagong dan Boleng terjebak dalam balas dendam tak berujung. “Orang bilang aib sama saja dengan nasib”. Penggalan kalimat ini barangkali yang dapat menjelaskan kepada para pembaca tentang mengapa seluruh rentetan peristiwa yang terjadi rasanya sangat sulit dipahami. Jika hendak kita telusuri di mana sebenarnya akar permasalahan moral yang merundung tokoh-tokoh di Tegalurung, maka usaha itu seolah akan sia-sia. Semua aib saling terkait, struktural dan mbulet seperti benang kusut. Ujung-ujungnya kamu hanya akan mengutuki Minantoo kenapa bukan Bagong saja yang mati!