Enam bulan berjalan

Satu semester sudah terlewati, beberapa hari lagi pengumuman nilai akan keluar dan aku merasa tidak enak badan, bukan karena mengkhawatirkan nilai kemudian aku jatuh sakit namun karena flu adalah penyakit musiman disini, beberapa orang yang aku temui juga mengeluhkan hal yang sama. Salah seorang teman serumahku akan kembali ke Indonesia bulan depan, dan ia mengeluhkan betapa muram rasanya untuk kembali menghadapi realita menjadi warga negara plus enam-dua. Ya, aku pun merasakannya, setiap membuka kilas berita tentang rumah, isinya tidak jauh dari keributan antara masyarakat dengan pembuat kebijakan. Anekdot Gabriel masih relevan ketika ia menulis bahwa “peperangan hanya terjadi di pegunungan, sementara di kota pemerintah tidak membunuh menggunakan senapan, melainkan dengan peraturan”. Ribuan anak muda disekolahkan ke luar negeri dengan harapan untuk membangun bangsa yang lebih baik, namun pada dasarnya keinginan pemerintah untuk memperbaiki itu sendiri yang nampaknya fana. Selalu terbersit gagasan dan dorongan untuk berkontribusi kepada negara dari luar dengan menjadi diaspora, terlepas dari perdebatan tentang pemaknaan menjadi bagian daripadanya. Tapi semua itu terasa ganjil karena bagaimanapun juga tetap berat rasanya untuk meninggalkan kampung halaman, dan bayangan tentang sejarahmu pasti akan terus mengikuti kemanapun kamu pergi. Aku tidak bisa berbohong kalau aku lebih cinta makan nasi ketimbang roti, dan acapkali berimajinasi tentang nikmatnya kretek dengan secangkir kopi tubruk. Ketika menengok kembali perkuliahan selama lima bulan ke belakang, semua yang aku tuliskan dalam tugas esaiku pun tentang Indonesia, lalu bagaimana mungkin aku bisa terus menulis tentangnya jika aku tidak menghirup udaranya, tidak makan dari tanahnya, dan tidak cebok dari airnya. Sebagai kesimpulan aku hanya berharap bahwa hati ini tidak berubah, dan percaya bahwa wajah dari kemewahan itu tidaklah tunggal. Jika diperhatikan, tren pemerintahan di berbagai negara juga sedang bergerser ke arah otoritarian, bukan hanya di negara tempat aku lahir, artinya sudah sepatutnya aku pulang ketika waktuku telah usai. Pulang tidak harus dimaknai sebagai berdiam di rumah dan berhenti melakukan perjalanan, pulang bagiku adalah menata kembali hubungan dengan alam dan seisinya yang telah memberikanku kehidupan.