Tamat membaca

Lebaran ini aku tidak khatam Quran1, begitu pun lebaran sebelumnya, dan sebelum-sebelumnya. Tapi aku sudah pernah khatam, beberapa kali sejak kelas 5 SD hingga kelas 2 SMA, satu juz setiap hari selama persiapan ujian masuk kuliah, lalu terjemahan 114 surah saat menjadi mahasiswa semester satu. Sehingga aku tidak ambil pusing ketika Mamak membandingkanku dengan seorang sepupu berusia delapan tahun yang baru saja khatam di malam ke-27 kemarin. Kukatakan padanya “Aku juga sudah pernah”.

Orang-orang adu cepat membaca Quran di bulan kesembilan Hijriah karena yang sering mereka tanyakan di antara mereka adalah “Sudah berapa kali khatam Ramadan ini?”. Setiap orang tentu boleh mengkhatamkan Quran sebanyak dan secepat apa pun ia mau. Namun ketika anjuran ‘bacalah’ diartikan secara harfiah sebagai aktivitas membaca huruf-huruf arab tanpa pemaknaan, tidak heran jika khatam digunakan sebagai tolak ukur kesalehan. Kadang aku penasaran, seandainya orang-orang ini mengimani isi Tipiṭaka, apakah mereka juga akan melombakan anak-anak mereka untuk melantunkan huruf-huruf pāḷi?

Kalimat pertama yang disampaikan Jibril dari Tuhannya adalah perintah kepada Muhammad untuk membaca. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, Muhammad menjawab perintah Jibril dengan ucapan: “Saya bukan orang yang membaca”2. Riwayat ini memberikan penegasan bahwa Muhammad tentu bisa membaca, ia tidak buta huruf, namun pada spektrum tertentu ia tidak merasa dirinya adalah orang yang membaca. Lantas, ‘membaca’ seperti apa yang Tuhan maksudkan melalui Jibril?

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan” (Surah 96:1). Ini adalah penafsiran lepas saya: membaca adalah memaknai apa yang tersurat dan tersirat dalam kata-kata juga tanda-tanda di alam semesta ini tanpa kesombongan. Ketika membaca Quran dilakukan sebagai rutinitas melantunkan ayat suci tanpa memahami, sebagai target bulanan yang wajib dipenuhi, apakah kita benar-benar membaca? Saya paham bahwa Tuhan akan memberikan ganjaran yang sepadan bagi mereka yang berusaha dan saya pun mengakui bahwa melantunkan ayat suci dengan benar saja sudah merupakan usaha bagi sebagian besar orang non-Arab. Namun, perlu digarisbawahi bahwa khatam membaca tidak sama dengan membaca. Tidak perlu berkecil hati jika kamu membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami semuanya.

Pondok Kacang, 29-III-26

  1. Tamat membaca 30 juz ↩︎
  2. Sejumlah riwayat mengatakan bahwa Muhammad adalah individu yang buta huruf, sehingga Jibril mengajarinya membaca. Namun, sulit untuk memercayai bahwa Muhammad benar-benar buta huruf, mengingat ia juga dikisahkan sebagai keturunan aristokrat di Hejaz yang telah memperistri seorang saudagar mahsyur bernama Khadijah pada umur 25 tahun dan mengelola perdagangan selama bertahun-tahun sebelum perjumpaannya dengan Jibril (Encyclopaedia of Islam, 2nd edition, 2006, p. 362). ↩︎