Suksesi

“Sudah dikit ajalah kau tunjukkan itu hasil kegiatan Gladimadya-mu kemarin, tampilkan video yang klean buat biar rame dikit acara kita ni.” Setelah sebelumnya aku tolak permintaan Manto karena dia baru saja berkabar satu jam sebelum forum dimulai dan tentu saja saya belum bersiap apa-apa. Akhirnya saya langsung siapkan laptop, proyektor, dan semua kabel, lalu Manto membuka sesi santai forum malam itu.  

“Yak jadi mas dan mbak semua, ini kemarin kita ada laksanakan kegiatan Gladimadya angkatan Sajan-16, mereka mengusung konsep Gladimadya 4 divisi yang lokasinya ada di Pulau Jawa.” Peserta dalam forum terdengar antusias, tapi saya mencoba tak peduli. Saya menyibukkan diri ke layar laptop, mencari file video dan ppt yang dibutuhkan, memastikan kabel speaker sudah tersambung, sebenarnya supaya tidak jadi pusat perhatian. Eh Manto malah tiba-tiba mempersilakan saya untuk berbicara.  

“Ah apaan to kok aku pake disuruh ngomong juga, kan tadi cuma disuruh nampilin video doang sama hasil-hasil, moh aku”  

“Yah masa kau langsung tampilin itu semua gaada omong-omong dulu?”  

“Ya kamu lah to, kan tadi udah kamu yang buka biar sekalian aja satu orang yang bicara”  

“Lah kan ko yang kegiatan, masa aku yang suruh jelasin, kau lah yang lebih ngerti”. Saya tengok sekeliling, rupanya orang-orang menunggu. Layar proyektor dari tadi masih berwarna biru, karena kabel proyektor memang sengaja baru akan saya pasang terakhir. Satu-dua orang mulai bingung, tiga-empat orang mulai mencurigai percakapan saya dengan Manto di depaln laptop. 

“Udahlah gapapa ham, belajar juga kan kau sebentar lagi mau jadi PH”, tutup Manto dengan amat persuasif. Kalimat inilah yang menyadarkan saya tentang suksesi yang tak dapat terhindarkan, tapi saya tetap mengelak.

“Lah kata siapa aku mau jadi PH to? Lagian siapa juga yang pingin jadi PH”. Kalimat penutup yang cukup kasar, sebelum akhirnya saya menyerah dan bercerita juga kepada forum tentang hasil-hasil kegiatan Gladimadya yang lalu. Tapi sebenarnya saya tidak benar-benar serius dengan kalimat terakhir barusan.  

Seandainya seseorang bertanya tentang kesediaan saya untuk jadi pengurus, dan harus dijawab dengan jujur, saya akan menjawab “iya bersedia”. Walaupun pertanyaan ini sebenarnya kurang relevan dengan situasi saya, yang sejak awal punya angan untuk jadi lebih dari sekedar bagian dari keluarga ini. Tetapi jika orang bertanya lagi mengenai alasan kenapa mau jadi pengurus, rasanya ada berlembar-lembar manuskrip yang perlu mereka pelajari untuk memperoleh jawaban yang pas. Setidaknya saya cukup berterus terang dan tidak terlihat terlalu ambisius.  


Keinginan saya untuk bergabung dengan pencinta alam berangkat dari sebuah film, tentang si legendaris Gie yang diperankan oleh lelaki bermata kecil nan tajam, Saputra. Satu hal yang sejujurnya masih belum bisa saya percaya, bahwa ternyata sepotong kalimat saja cukup mampu mempengaruhi preferensi saya dalam menentukan jalan hidup.

“Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

Jika orang mengira bahwa saya akan senang dengan jalan yang sudah saya pilih, mereka tidak salah, namun kenyataannya juga tidak sepenuhnya benar. Saya sering mempertanyakan kepada diri saya sendiri, tentang kenapa, apakah proses yang akan saya lalui nanti akan sepadan dengan hasilnya, dan semacamnya. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk menerima menjadi pengurus harian dan menunaikan tugas saya, saya masih sering bertanya. Semata-mata hanya untuk memuaskan hasrat saya untuk bertanya, kepada angan yang diterbangkan bersama angin.

Saya pernah mendengar beberapa kawan saya berkata bahwa mengurus organisasi adalah salah satu bentuk pengabdian. Sebuah wujud politik balas budi yang berasal dari diri sendiri karena jasa yang telah organisasi ini berikan dalam perjalanan hidupmu. Dirimu dilahirkan dari rahim organisasi ini kemudian turut berkembang dalam naungannya. Tapi saya tidak setuju dengan gagasan balas budi itu sendiri, karena tidak ada budi yang perlu dibalas. Saya melakukan sesuatu bukan atas dasar premis “jika – maka” atau “jika – dan hanya jika”, melainkan atas dasar justifikasi  pribadi. Selama saya bisa meyakinkan diri saya sendiri tentang apa yang saya lakukan, saya tidak butuh alasan, mungkin mirip dengan konsepsi iman dalam ajaran Islam.
Dan keyakinan itu adalah, saya bisa menjadikan organisasi ini lebih baik.


Menjadi pengurus sebenarnya adalah perkara mudah, karena saya akan bekerja bersama mereka yang sudah saya kenal lebih dari 365 hari lamanya. Padahal dalam dunia profesional, bekerja dengan orang yang sama sekali tidak kamu kenal adalah hal biasa. Tapi hanya dari perspektif itu saja yang membuatnya terlihat mudah. Sementara beban kerja yang ditanggung, haha, rasanya mereka semua bisa bersekongkol untuk menghancurkanmu. Rasanya butuh berlembar-lembar folio jika aku harus menceritakan tentang semua yang telah terjadi di 2018 bersama mereka yang berbagi takdir dengan saya untuk menjadi pengurus harian.

Sampai akhirnya pada malam suksesi berlangsung, saya tetap yakin bahwa saya telah menjadikan organisasi ini lebih baik. Meskipun, mungkin porsi yang menjadi lebih baik hanya 20%, dan yang menjadi lebih buruk adalah 80%, hahaha setidaknya ada sedikit lah. Satu hal yang pasti adalah, pada malam suksesi itu saya berbahagia.

Terima kasih
Pizza Hut 2018