Saya pernah sedemikian berpikir keras tentang apa sebenarnya makna manusia hidup di dunia. Tapi itu dulu, ketika saya masih rajin bolak-balik dari Delman Kencana – Delman Utama tiap panggilan ibadah berkumandang. Dulu, saya rela untuk mengantre di perlintasan kereta api, berdesakan dengan kerumunan jiwa lainnya yang juga terburu-buru entah untuk apa, hanya untuk bersimpuh, berdialog, dengan Yang Maha Kuasa. Setelah puluhan senja berganti malam, dan puluhan malam qamar beralih rupa, saya menyadari bahwa ada sesungguhnya Tuhan telah memberikan kisi-kisi untuk menjawab pertanyaan makhluknya tentang dunia. Sebuah kunci semesta yang tersirat di ayat ke-duapuluh ini.
Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak
اِعْلَمُوْٓا اَنَّمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ وَّزِيْنَةٌ وَّتَفَاخُرٌۢ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى الْاَمْوَالِ وَالْاَوْلَادِۗ
Semua permainan yang dibuat oleh manusia pasti dilengkapi dengan aturan main, hal ini ditujukan untuk meregulasi peserta supaya menjadi pemenang dalam permainan tersebut. Ibaratkan permainan sepak bola, cara untuk menjadi pemenang adalah dengan mengumpulkan skor terbanyak. Untuk memperoleh skor satu poin, tim hanya perlu memasukkan bola ke gawang lawan. Ada banyak cara untuk memasukkan bola ke gawang lawan, melalui sepak pojok, tendangan jarak jauh, sundulan, dan lain-lain kecuali melempar bola dengan tangan. Tidak sesederhana itu, aturan main dalam sepak bola juga meliputi tindak pelanggaran, apa saja bentuk pelanggaran, siapa yang bertanggung jawab dalam mengawasi pelanggaran, apa konsekuensi dari tindak pelanggaran, serta bermacam aturan lainnya yang sebenarnya saya tidak terlalu paham. Yang jelas ada beberapa aspek yang perlu digarisbawahi dalam aturan main, yaitu bagaimana cara memenangkan permainan, dan hal apa saja yang tidak boleh dilanggar dalam permainan.
Manusia tidak menyukai ketidakadilan, maka ia menerapkan aturan main dalam segala aspek yang beririsan dengan kehidupannya. Aturan main tidak hanya berlaku dalam permainan, oleh karenanya makna tersebut dipersempit menjadi sebatas aturan saja. Sejak kecil kita sudah sangat dekat dengan aturan, mulai dari cuci tangan sebelum makan, gosok gigi sebelum tidur, lepas sepatu di dalam rumah, hingga waktu main dan belajar. Secara alamiah manusia menyadari bahwa aturan memang diperlukan untuk mencapai suatu hasil yang diinginkan. Hingga kemudian kehidupan manusia menjadi sedemikian kompleks karena dipenuhi oleh aturan-aturan. Manusia berlipat ganda secara eksponensial dari waktu ke waktu, dan apa yang diinginkan antara satu manusia dengan manusia lainnya tidaklah sama. “Persetan dengan aturan, aturan memang dibuat untuk dilanggar.” ujar mereka yang tidak satu keinginan dengan sebagian besar mereka yang lainnya. Penolakan terhadap suatu aturan memang wajar terjadi, karena aturan dibuat oleh manusia, untuk mencapai keinginan manusia. Sementara kita semua manusia, maka kita punya kedudukan yang sama untuk menentukan aturan mana yang ingin kita ikuti.
Kembali pada konteks aturan main, sejumlah manusia mungkin tidak menyadari, atau terlambat memahami bahwa sebenarnya hidup ini adalah permainan. Tapi dalam hal ini, kita tidak bisa memungkiri, mengelak, atau menghindar dari kenyataan bahwa kita sudah terjebak dalam permainan yang sebenarnya kita sendiri tidak bisa memilih untuk terlibat atau tidak. Sebuah pertanyaan mendasar dalam kehidupan, siapa sebenarnya yang menginginkan dirinya sendiri untuk terlahir di dunia? Saya tidak pernah merasa memilih, karena saya ada karena hasil dari kebahagiaan kedua pendahulu saya. Ada yang terlahir sebagai buah dari cita dan angan, ada juga terlahir dari kecerobohan. Dan siapa pun ia yang sudah terlahir di dunia ini, tidak mungkin serta merta dapat memahami bahwa kehidupan ini hanya permainan. Pertama, karena Tuhan telah menggariskan bahwa manusia tumbuh dan berkembang dari fase nol ketika ia dilahirkan. Kedua, bisa jadi kedua pendahulunya tidak pernah menanamkan atau tidak pula pernah mengerti apa yang dimaksud dengan permainan itu.
Saya sendiri berusaha untuk tidak menyalahkan Tuhan karena apa yang telah digariskan, karena memang tidak ada yang perlu disalahkan. Saya, seperti sebagian besar manusia lainnya, tidak pernah merasa memiliki pilihan untuk terlibat atau tidak terlibat dalam permainan yang disebut dengan dunia. Tapi saya percaya bahwa kehadiran saya memberikan kebahagiaan bagi mereka yang memproyeksikan perwujudan saya di sekitar mereka. Selain itu, dalam ajaran yang saya percayai, sebenarnya kenyataan mengenai kehidupan tidak datang secara mandiri. Ia hadir bersama kelengkapan aturan main lainnya yang diperlukan untuk memperoleh sukses di dunia, yaitu tentang bagaimana menjadi manusia. Pada momen ketika saya mengetahui kenyataan ini, ada satu keraguan sebenarnya yang cukup mengganggu. Tidakkah kenyataan ini terlalu dini untuk saya terima? Beberapa orang pernah bilang “Ketika saya seusia kamu, saya tidak pernah serajin itu dalam beribadah. Tapi itu bagus, saya senang melihat anak muda yang sedemikian bersemangat”. Dalam hati saya menjawab, memang ini yang seharusnya dilakukan. Ketika itu usia saya belum genap dua puluh, dan saya tidak yakin apakah saya sanggup menjalani sisa hidup saya sebagaimana apa yang saya percayai adalah benar.
Hingga detik saya menyelesaikan tulisan ini, saya sebenarnya menyadari adanya pergolakan dalam diri saya sendiri. Saya tahu apa yang saya percayai adalah benar, tapi kenapa saya tidak bisa bersenang-senang? Hidup ini masih panjang, meskipun tidak ada yang tahu sampai kapan. Tapi ketika ia hanya hadir satu kali seumur hidup, kenapa kamu memilih untuk bimbang di tengah semua kesenangan yang tersedia.
Ada yang bilang bahwa pada akhirnya hidup ini adalah tentang pilihan. Mungkin saya terjebak dalam penjelasan di akhir kalimat potongan ayat ke-duapuluh. Tapi saya percaya bahwa semua yang saya jalani adalah rangkaian proses untuk menjadi manusia.
وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
Kepada Dzat yang Maha Mengetahui, Maha Menyayangi, dan Maha Membolak-balikkan Hati, izinkan saya untuk mencari jalan menuju jiwa yang tenang.
Dari hamba-Mu dengan setulus kepercayaan.
