Relasi

Setelah menonton karya jurnalistik The Guardian tentang Krisis Berpacaran Global Sesi Pertama, ada satu hal yang kurasa layak aku syukuri dari pengalaman menjalin cinta dengan seseorang selama satu setengah tahun ke belakang, yaitu mengenal dunia secara lebih dekat dari kacamata seorang perempuan. Berkenalan dengannya tidak hanya membukakanku pada berbagai percakapan dengan sudut pandang perempuan sebagai individu, namun juga sebagai bagian dari komunitas sesama perempuan, sebagai anggota keluarga, sebagai manusia. Meskipun lingkaran pertemananku sebelum ini juga bisa dibilang banyak perempuannya, ternyata masih banyak asumsiku yang keliru mengenai ekspektasi perempuan dalam hubungan romantis ideal. Pun sebaliknya, banyak asumsinya tentang laki-laki yang ternyata tidak terbukti di aku.

Aku tiba-tiba teringat satu vignette percakapan dengan juniorku di sebuah tongkrongan eksklusif abang-abangan. Seseorang di antara mereka baru saja putus cinta beberapa bulan lalu karena beda agama, seseorang yang lain tidak dihiraukan sejak usai masa orientasi, sementara beberapa yang lainnya tidak kutahu. Lalu kutanya kepada salah satunya “Kalau kau sendiri gimana, ada pacarmu?” “Nggak bang, fokus kuliah dulu lah kita ini, kerja, cari duit dulu. Mau kita kasih makan pakai apa anak orang nanti? Belum lagi kalau dia mau pilates, mau padel, skincare, berat bang” jawabnya.

Di satu sisi aku cukup lega mengetahui juniorku menomorsatukan kuliahnya, aku harap dia lulus dengan baik dan mampu mewujudkan cita-citanya. Di sisi lain, jawabannya mengandung dua asumsi yang barangkali hanya bergema di antara sesama laki-laki, yaitu: 1) semua perempuan menginginkan hal yang sama; 2) berpacaran merupakan sebuah keniscayaan yang akan bisa diraih ketika seorang lelaki telah selesai dengan semua ambisinya, atau melewati ambang kelayakan tertentu yang bersifat materil.

Dalam temuan The Guardian, asumsi ini tidak serta-merta muncul dari ruang hampa, ia datang dari obrolan eksklusif abang-abangan yang kemudian teramplifikasi dan terpelihara melalui kultur influencer (baca lebih lanjut: manosphere). Pada spektrum yang lain, kuyakini ada juga influencer yang merawat asumsi bahwa semua laki-laki sama saja. Memang, kultur influencer bukan satu-satunya domain yang merawat narasi dengan asumsi sepihak, baik tentang perempuan atau pun laki-laki, ada juga domain agama, keluarga dan pertemanan misalnya. Terlepas dari itu semua, setidaknya melalui tulisan ini aku ingin mengatakan bahwa jurang asumsi antara laki-laki dan perempuan barangkali hanya bisa dijembatani melalui dialektika secara privat.

Aku tidak punya argumen yang kuat untuk ini, tapi bagaimana mungkin kita memahami aspirasi calon pasangan kita tanpa mengajaknya ngobrol? Mungkin bagi sebagian orang aktivitas mengobrol dalam konteks pendekatan itu terasa melelahkan, tapi buatku itu menyenangkan jika dilakukan tanpa ambisi mencari, tanpa menjadikan pacaran (atau hidup berpasangan) sebagai objek pencapaian. Sederhananya, kenapa sih kita harus menghidupi standar-standar, dan asumsi-asumsi bahkan untuk sekedar memulai saling mencintai.

Sebagai catatan, aku tidak menulis ini untuk mengatakan bahwa semua orang harus berpacaran, atau hidup berpasangan. Justru tulisan ini lahir dari keresahanku terhadap orang-orang yang menganggap jalan hidup itu linear, dan berpacaran adalah bagian dari linearitas tersebut. Jika laki-laki memandang pacaran sekadar untuk mengisi checklist ambisinya, maka perempuan yang menjadi pacarnya pun hanya estetika semata. Tidak heran jika perempuan kemudian identik dengan hal-hal yang bersifat materialis. Sekali lagi aku bersyukur karena hubungan romantisku yang terakhir tidak demikian, kami lebih banyak menghabiskan waktu dengan bicara untuk saling mengenal. Meskipun pada akhirnya tidak sama-sama, aku cukup bisa berbangga hati karena untuk saat ini mungkin aku lah laki-laki yang paling mengenal dirinya, dan dialah juga yang paling mengenal aku (selain anggota keluarga kami masing-masing).

Gentan, 04-V-26