Pedagogi alternatif di tengah laut

Di perjalanan malam antara Bima dan Waingapu, aku duduk di bangku panjang dek samping kapal untuk menghabiskan jatah makan malamku. Di sebelahku duduk seorang anak laki-laki dengan tiga orang abang-abangan yang menutup makan malamnya dengan sebatang rokok, mungkin masih sanak familinya juga. Satu abang-abang diantara mereka sedang asik bermain gim teka-teki silang ‘Words of Wonder’ di gawainya. Berbeda dengan teka-teki silang klasik yang biasa kita jumpai di koran mingguan, di dalam gim ini tersedia petunjuk berupa huruf-huruf acak dalam wadah lingkaran yang bisa kita sambungkan untuk mengisi baris dan kolom. Semua mata mereka tertuju pada gawai. Mereka abang-abang saling menebak jawaban teka-teki, sementara si bocah hanya bisa ikut merayakan saja jika jawaban abang-abangnya benar. Hingga akhirnya abang yang memegang gawai ini terusik dengan tingkah si bocah, lalu ia bertanya padanya.

“Coba, yang mana huruf N” tanya si Abang.

Si anak menunjuk salah satu huruf di dalam lingkaran itu, lalu mereka bertiga tertawa pecah.

Beta tanya huruf N, bukan L! Nah coba sekali lagi yang mana huruf N?” tanya si Abang lagi.

Tawa mereka pun semakin pecah mendapati si bocah menebak asal karena ia belum tahu huruf.

Lu su kelas dua SD son tau huruf N ni karmana! Coba huruf A?!” si Abang semakin usil memberikan tebakan ke bocah ini.

Aku pun ikut tertawa dengan mereka melihat si bocah ini menunjuk huruf secara asal. Si abang pun mengulangi pertanyaannya dengan melafalkan huruf A keras-keras sambil tertawa setengah mati.

“Ini huruf A!!!” jawab si Bocah kesal karena terus-menerus menjadi bahan tertawaan abang-abangnya.

Lu ini su salah baru ngotot lai!” teriak si Abang kepada si Bocil.

Adegan ini berulang beberapa kali hingga akhirnya si Abang menunjukkan jawaban yang benar. Mereka pun berhenti menertawakan ketika si Bocah salah menjawab dan mulai memvisualisasikan bentuk-bentuk huruf supaya diingat oleh si Bocah. A yang menyerupai segitiga, B yang seperti ibu hamil, S yang mirip ular meliuk, dan seterusnya. Apakah ini yang disebut dengan ‘pedagogi kaum tertindas’? ujarku dalam hati.

Cerita tentang anak yang ‘lambat’ membaca dan menghitung sudah terlalu sering aku jumpai sebagai mantan pengajar di lembaga privat. Siswa-siswaku mengaku kalau mereka memang seringkali tidak belajar di sekolah, entah karena ketidakhadiran guru, atau kegiatan belajar mengajar di sekolah yang tidak efektif. Di satu sisi aku maklum adanya karena sejak lama guru-guru, khususnya di sekolah negeri, lebih banyak disibukkan dengan tanggung jawab administrasi, dan birokrasi. Belakangan ini, beban mereka ditambah lagi dengan urusan ompreng ‘makan bergizi’. Di sisi lain, aku juga tidak bisa menafikan bahwa memang ada guru-guru yang tidak bakat, bahkan tidak minat, mengajar meskipun ia dilepaskan dari beban administrasi sekolah.

Bila ditelusuri lebih dalam, mungkin akan kita temukan lebih banyak faktor yang secara sistemik berimbas pada pembelajaran anak di dalam kelas-kelas pendidikan formal. Namun aku tidak akan membahas perihal itu dalam tulisan ini. Aku hanya ingin merefleksikan bentuk pedagogi yang aku amati di atas kapal. Akankah bocah ini mengingat penindasan yang ia alami di kapal sehingga menjadikannya mengerti huruf hingga kemudian lebih semangat belajar? Jika iya, seharusnya kebutuhan anak akan pendidikan dasar, seperti membaca dan menghitung, bisa dipenuhi dari anggota keluarga melalui interaksi sederhana yang disisipi intensi untuk mendidik. Tidak semua anak memahami penambahan dan pengurangan melalui hitung-hitungan di atas kertas. Barangkali ada di antara mereka yang lebih pandai berhitung karena sehari-hari ditugaskan oleh orang tuanya menjaga warung kelontong. Anak lain mungkin bisa lebih cepat membaca karena terbiasa dibacakan dongeng sebelum tidur. Apa-apa yang dianggap mendasar mungkin berbeda sesuai konteksnya masing-masing, tidak selalu membaca dan menulis. Namun, tanpa intensi dari orang dewasa untuk memberi pengajaran kepada yang lebih muda, bagaimana anak-anak bisa benar-benar belajar?

Kapan, 17-VI-26